Senin, 16 Mei 2011

Undur-Undur


hanyalah Undur-Undur, bukan serangan meteor

selengkapnya -->

Minggu, 15 Mei 2011

Akademi Barbagi Solo

Segala hal yang gratis, kenapa harus dilewatkan? Mendapatkan pengalaman dari para pengajar yang sudah begitu berpengalaman sangat sayang untuk dilewatkan. Akademi Berbagi, sebuah gerakan saling berbagi, berbagi ilmu dan pengalaman, 2 hal yang sangat berharga untuk orang lain. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut akademi berbagi untuk regional solo (@akbersolo), bertemakan Creative City Branding yang dibawakan oleh @motulz dan @LarasaTita. Edisi perdana ini yang bertempat di OmahSinten, yang lokasi sangat enak dan nyaman, deket dengan Pura Mangkunegaran, lokasi di Jl. Diponegoro, Ngarsopura. Dan ini adalah edisi perdana di Solo, dengan tekat baja, jam 9 pagi saya berangkat dari jogja, demi #akbersolo #1 ini.

Sesi pertama oleh mas @motulz, 2 hal baru yang saya dapat dari sesi ini, pertama KREATIF itu bukan hal yang instant. Kreatif itu sebuah pembelajaran dan pengalaman dari keseharian ilmu yang kita peroleh. Belajar dan belajar berpikir lain dari hal yang pernah kita lakukan sebelumnya adalah proses kreatif, dan itu tidak diperoleh dari satu atau tujuh hari belajar. Dan kedua jangan LATAH. Membangun sebuah kota jangan meniru kebiasaan kota lain, karena kalo meniru kota lain, mereka akan bosan dengan tempat kita, karena mereka sudah menemukan di kota yang ditiru. Otentik, mempertahankan sebuah ciri khas dari sebuah kota, dan mengemas menjadi satu hal yang mudah dijangkau dan nyaman untuk orang lain menikmatinya. Namun jangan jadikan hal yang murahan (menurut saya), tetapi kemas secara sederhana dan mempertahankan apa adanya, nanti itu akan menjadi daya tarik yang sungguh mempesona.

Belajar dari kota-kota seperti Agra, dengan simbol Taj Mahal, karena masyarakat dan pemerintah daerah setempat itu merupakan daya tarik. Maka mereka dengan kemasan yang saling menguntungkan, menjaga dan merawat segala sesuatu tentang Taj Mahal dengan baik dan aturan yang ketat. Amterdam, bagaimana mereka mempertahankan gedung-gedung tua, merawat agar tetap berdiri kokoh, namun tidak dibangun menjadi gedung baru. Barcelona, merawat pantai dengan berbagai cara agar tetap indah dan bersih. Serta mebangun simbiosis mutualisme dengan pedagang setempat. Banyak tempat dan kota sekarang saling berlomba untuk menunjukkan ciri khas masing-masing.

Mbak @LarasaTita memberikan pengalamannya bagaimana mem-Branding kota bandung. Dengan tanpa lelah, apalagi tanpa dukungan dari pemerintah daerah. Beberapa tahun berusaha dengan tidak putus asa, dan akhirnya sedikit demi sedikit mendapat dukungan. Berusaha memposisikan bandung dengan kota-kota di Indonesia, bahkan dunia, untuk mempunyai sebuah ciri khas, posisi tepat dengan kota sekitar. Menerapkan brand baru sebuah kota, mewacakan, merencanakan dan menerapkan. Pemerintah setempat dan penduduk harus selalu bersinergi, agar tercapai dan terlaksana dengan baik. Berbagai kota yang awalnya dari pertanian menuju ke industrialisasi, lalu beralih ke pusat informasi, dan saat ini banyak kota besar yang sudah menerapkan Kota Kreatif.

Sebuah kota yang sehat dan nyaman, bisa dilihat dari penduduknya keluar untuk jalan-jalan menikmati kotanya. Bagaimana orang tua bisa membiarkan anak-anak untuk main di luar rumahnya tanpa ada rasa khawatir. Untuk itu pemerintah setempat harus bisa memberikan ruang terbuka untuk berkumpul, saling bertemu, menumbuhkan jiwa sosial. Dan juga menurut saya, jika banyak tempat-tempat ruang terbuka untuk masyarakat, nanti pemerintah akah mudah memberikan sosialisasi dan menyaring aspirasi dari masyarakat. Nah kan dari sini nanti akan mengurangi waktu masyarakat untuk menunjukkan aspirasi kepada wakil mereka, karena sudah ada wadah tersendiri.

Setelah acara di OmahSinten, acara dilanjutkan keliling kota solo, menggunakan bis werkudara. ini merupakan bis tingkat, dan atapnya bisa dibuka. Dan di Solo baru ada satu armada. Dan menyenangkan berkeliling kota solo menggunakan bis ini, mulai dari Pasar Gedhe, lalu menuju Rumah Dinas Walikota, dan terakhir mampir di Taman Sriwedari.

em...nanti sekelumit cerita tentang bis kota solo saya lanjut di cerita berikutnya....

selengkapnya -->

Senin, 09 Mei 2011

Mei

Mei, bulan ini dianggap sebagai bulan bersejarah. Awal kebangkitan negeri ini diawali dari tahun 1908, dan tanggal 20 dianggap sebagai tonggak baru semangat kemerdekaan ngeri ini. Satu abad lebih hari itu telah terlewati. Sampai kita pada masa ini, masa reformasi, ya itu yang mereka dengungkan untuk memberi nama era baru negeri ini. Entah apa relevansinya saya juga tidak sepnuhnya paham dan mengerti.

Yang saya, beberapa dari kami, entah sebagian kecil atau besar, kami hanya ingin menjalani kehidupan ini menjadi lebih baik, nyaman aman tentram, istilahnya : ora neko-neko. Ah, tapi untuk mengetahui semua itu berjalan apa adanya, mungkin semestinya, bisa juga menurut kita pribadi lebih baik. Namun apa tolok ukurnya kita ini hidup nyaman? bahagia? yang ora neko-neko?

Menurut orang dahulu, beruntung-beruntungnya orang hidup itu yang (bisa) ingat dan (tetap) waspada. Ingat, ingat akan apa? Tujuan, aturan, keinginan, atau kemauan? Bisa dijawab menurut keyakinan masing-masing.

Dan saat ini sudah jam 4 pagi, mari melanjutkan hidup, menurut keyakinan kita masing-masing.

Bro Pagi Bro!

selengkapnya -->

Senin, 06 September 2010

Rumah Susun Jagalan

Rumah Susun Sederhana Sewa, dan Rumah Susun Sederhana Hak Milik, di Daerah Istimewa Yogyakarta memang layak untuk di bangun dan diperbanyak lagi. Kapasitas tanah untuk perumahan sudah semakin sempit, dan tidak layak untuk di bangun lagi. Karena untuk membangun perumahan membutuhkan lahan yang tidak sedikit, dan kemungkinan lain
adalah mengubah lahan persawahan menjadi lahan untuk perumahan. Peresapan untuk air hujan semakin sedikit, ruang hijau semakin berkurang. Karenanya pembangunan Rumah Susun menjadi alternatif seiring bertambahnya penduduk Jogja ini, baik dari pendatang ataupun angka kelahiran.

Sedikit cerita dari salah satu Rumah Susun Sederhana (dari gambar) yang berada di Kampung Jagalan. Menurut salah seorang yang tinggal di Lantai 3. Harga Rumah Susun memang sedikit memberatkan penyewa. Dengan batasan waktu 3 tahun, harga yang ditawarkan mulai dari 155 ribu, di lantai 5, 165 ribu lantai 4, 175 ribu lantai 3, 185 ribu lantai 2, dan lantai dasar dengan harga paling
murah, karena untuk pemilik tanah, yang dulunya tinggal di tempat itu. Kondisi rumah susun saat ini memang lebih nyaman, air sudah tidak pernah mati, lingkungan lebih nyaman. Dulu saat awal sampe akhir tahun 2009 kondisi air pam sering mati, terutama pada jam-jam kantor, sekitar jam 08.00 - 13.00, kadang pagi sekitar jam 06.00 / 07.00 sudah mati. Saat ini untuk air sudah lancar, dan jarang sekali mati. Untuk kebersihan, memang hanya dari kondisi personal yang tinggal untuk mengelola kebersiha lokasi masing-masing yang masih menjadi kendala. Lha uang sampah yang menjadi iuran itu? nah itu untuk pembuangan sampah, bukan petugas kebersihan, memang hotel? Perlu ditanamkan rasa tanggung jawab dari penyewa untuk menjaga kebersihan dan ketertiban.

Namun penawaran harga diatas belum termasuk untuk listrik, sampah, dan air. untuk tambahan biaya sekitar 60 ribu, tergantung pemakaian air dan listrik. Wah ternyata masih mahal untuk ukuran tempat sebesar kos-kosan itu. Namun, dengan harga itu, termasuk relatif bisa murah, jika tempat kerja, dan dekat dengan pusat-pusat kota, tinggal jalan kaki untuk sampe ke Malioboro dan pasar Beringharjo. Menghemat waktu
dan biaya untuk hal-hal lain. Hem sedikit menarik bagi saya, jika masih lajang memang enak menempati luas rumah 3 x 7 meter ini. Hidup bersepeda, di pusat kota, dengan biaya sewa terjangkau kantong, menarik.

Rusunawa ini tertutup hanya untuk KTP yang bersangkutan, ah tertutup bagi saya jika ingin menempati rusun tersebut. Jika Rusunawa tersebut terletak di Kota Jogja, maka yang diperbolehkan tinggal/sewa ditempat tersebut hanyalah warga dengan KTP Kota Jogja saja. Begitu juga dengan Rusunawa di daerah Bantul, maupun Sleman. Ketertarikan saya jadi hilang, karena masih berada di pinggir kota, memang masih dekat dengan jalur bus transjogja. Namun masih jauh jika ingin jalan-jalan keliling
Kota Jogja, he he he. Mereka diperbolehkan menempati rumah susun tersebut selama 3 tahun, wah, dimana tempat bagi orang-orang kecil seperti kita-kita ini....?

ada kah yang tertarik menempati rumah susun? silahkan antri, saya batal antri ah, kecuali ada penawaran lain, he he he

selengkapnya -->

Kamis, 02 September 2010

Lebaran sebentar lagi

Lebaran, adalah saatnya mudik, untuk bertemu sapa dengan keluarga di kampung halaman. Saatnya kembali menjalin silaturahmi, untuk bertemu dengan sanak keluarga, tetangga dan atau teman lama, teman semasa kecil. Setiap tahun, berkumpul dengan keluarga besar, paling tidak dengan orangtua, nenek, paman. Atau mengunjungi makam leluhur yang sudah tiada. Mungkin juga ada rasa haru dan kenangan masa kecil, jika telah lama tidak pulang.

Lebaran, dikenal di negara ini sebagai perayaan Idul Fitri, Hari Besar Suci (istilah untuk kembali fitrah) bagai dilahirkan kembali. Harapan sebagai manusia biasa, tetapi sudah pantaskah perayaan itu? Lebaran, sehabis Bulan Puasa, bulan yang dijanjikan Tuhan sebagai bulan 1000 bulan, segala amal dilipatgandakan sehingga bisa menggapai segala ibadah yang akan sama jika kita lakukan selama 1000 bulan. Tanpa memberi syarat yang berat, Dia hanya memberikan hanya dalam waktu 1 hari, di malam yang Dia janjikan, hanya Dia yang tahu. Betapa Murah dan Lapang pahala yang Dia berikan. Namun, nikmat apalagi yang ingin kita ingkari? Hanya tanggung jawab diri pribadi, alih-alih kesadaran untuk mengingatkan diri pribadi. Karena bukan tanggung jawabmu jika saya lupa, dan bukan tanggung jawabku jika engkau lupa.

Ah, sudahlah, itu memang urusan diri pribadi. Mudik, jika kau teringat Kota Jogja setiap kata itu disebut, berarti kita satu daerah. Bantul, jika kau teringat daerah kecil ini saat mudik disebut, berarti tempat tinggal kita lebih dekat.

Selamat datang kawan jika engkau kembali ke Jogjakarta tahun ini, minggu depan akan kau tempuh perjalanan demi mengunjungi sanak keluarga tercinta. Hanya doa yang bisa aku berikan, oleh-olehmu yang aku harapkan, meski itu hanya sebuah cerita dan pembicaraan yang menyenangkan.

Jabat tangan erat sebagai sambutan, semoga menghapus kesalahan sampai hati paling dalam. Berikan senyuman, sebagai pengetuk hati yang tertutup. Walau segelas air yang dapat aku hidangkan, semoga itu dapat menghilangkan haus dahaga kerinduan. Sepotong roti kecil teman pembicaraan, semoga dapat menghilangkan lapar persaudaraan. Selamat datang kembali kawan di kampung halaman tercinta.


Sugeng Rawuh . . . .

selengkapnya -->